Bunsay #1: Aliran Rasa

Assalamualaikum..

Bismillahirrohmaanirrohiim..

Game level satu di kelas Bunda Sayang tidak terasa sudah berhasil terlampaui. Selama 15 hari berturut-turut alhamdulillah aku bisa secara konsisten berbagi dengan teman-teman proses komunikasi produktifku bersama keluarga. Pada saat memulai tantangan sepertinya sepuluh hari pertama itu lama sekali, ternyata pelan-pelan bisa terlewati.

Sebenarnya aku bertanya-tanya kenapa tugas kuliah disebut tantangan 10 hari sedangkan durasi periode tantangan adalah sebanyak 17 hari. Ternyata berdasarkan materi review 1.1, sepuluh hari adalah batas terendah dari kita dalam berproses untuk mencapai tujuan, dalam hal ini tentunya berkomunikasi produktif.

Ketika aku membaca materi pertama kali, harus kuakui selama ini tidak semuanya strategi yang disebutkan kuketahui. Ada beberapa poin yang sudah pernah tahu tetapi ya sekedar tahu saja. Keharusan untuk menyetorkan pengalaman praktik komunikasi produktif di keluarga tentunya memaksa agar aku memahami poin-poin strategi yang disebutkan dan mempraktikan sesuai dengan kondisi dan situasi.

Materi Komunikasi Produktif bisa dibaca ditulisanku disini, Bunsay #1: Komunikasi Produktif.

Selama 15 hari lalu aku mendapatkan tiga kali kesempatan praktik dengan suami dan tiga belas kali bersama anakku. Aku tidak menciptakan forum khusus. Semuanya berjalan natural saja. Ketika ada momen langsung praktik. Ternyata benar.. Apabila cara berkomunikasi diperbaiki, maka pesan yang kita sampaikan dapat dipahami dengan lebih baik.

Karena berjalan apa adanya, praktik tidak selalu berjalan dengan baik dan tidak semua poin strategi bisa kukerjakan. Namun, menurutku cara ini efektif untuk mengendalikan emosi dan semakin memaksaku untuk mengingat-ingat apa-apa saja yang harus dilakukan. Setiap hari adalah evaluasi diri.

Menurutku praktik komunikasi produktif ke anak lebih mudah dibandingkan ke suami. Hehehehe.. entahlah.. Mungkin karena timing yang kurang tepat atau ada alasan lain yang harus dibenahi seperti faktor-faktor yang disebut mempengaruhi pola komunikasiku dengan pak suami (faktor eksteropsikis, faktor arkeopsikis, dan faktor neopsikis). Ide yang aku akan adopsi hasil dari intip-intip setoran teman-teman peer group adalah suami juga mempraktikan komunikasi produktif. InsyaAllah kalau sama-sama bisa semakin baik komunikasi kami ke depannya.

Momen paling terkesan (atau paling menohok ya.. hehehe) bersama anakku adalah ketika dia bertanya kenapa aku selalu marah ke anakku dan ayahnya. Padahal sebelum dia bertanya aku baru praktik sama dia dan berhasil. Mungkin dia merasakan sebelumnya dikit-dikit bundanya emosi tapi akhir-akhir ini tidak seperti itu hihihi.. Selama praktik dengan anakku, tidak jarang kebiasaan lama muncul. Tapi seperti otomatis ada bel di kepalaku yang mengingatkan ketika anakku merespon kurang baik atau tidak paham pesan yang kusampaikan bahwa cara komunikasiku harus diubah.

Meskipun saat ini aku belum seratus persen yakin bahwa komunikasi produktif sudah benar-benar dijalankan, aku merasa membiasakan diri selama lima belas hari lalu itu meninggalkan bekas, seperti meningkatkan kesadaran, dan menciptakan kebiasaan baru. Hikmah yang kurasakan dari game level 1 ini adalah perbaikan kontrol emosi, tingkat kesabaran, tingkat kepositifan, kemampuan mendengar, kemampuan memilih kosakata, kemampuan berbicara, kemampuan mengobservasi, dan kemampuan mengenali diri sendiri, suami, dan anak. MasyaAllah..

Semoga bermanfaat bagi yang membaca ya. 🙂

-ameliasusilo-

Referensi:

  • Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Komunikasi Dengan Diri Sendiri Review Level 1 Bagian 1. 2019.
  • Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Komunikasi Dengan Diri Sendiri Review Level 1 Bagian 2. 2019.
Advertisements