Rencana Hidup

Bukan tentang rencana hidupku yang mau ditulis disini. Ceritanya semalam saat lagi rebahan tiba-tiba kepikiran lima orang yang nasibnya serupa tapi tidak sama. Mereka sama-sama tidak bisa melanjutkan sekolah di luar negeri, padahal menurutku semuanya pasti ingin sekali sekolahnya selesai.

Sebut saja K, L, M, N, O..

Si K terpaksa pulang ke Indonesia karena saat itu krisis ekonomi, orang tuanya tidak lagi sanggup mengirimkan uang untuk biaya sekolah dan hidupnya. K akhirnya pulang dan melanjutkan sekolahnya di Indonesia.

Si L tiba-tiba orang tuanya menelepon dan meminta untuk pulang dalam waktu dekat dan tidak melanjutkan kuliahnya karena alasan yang tidak bisa dijelaskan lewat telepon. Orang tuanya ingin L ada di dekat mereka. L yang tidak puas berusaha mencari tahu ada apa sebenarnya. Pada akhirnya dia bisa memahami alasan orang tuanya dan pulang ke Indonesia.

Si M.. Jangka waktu studinya sudah habis, dia sebenarnya hanya butuh satu semester lagi. Meskipun profesor sudah kasih surat keterangan tapi tetap saja kantor imigrasi setempat tidak mau memberikan ijin tinggal lebih lama lagi. Si M diminta pulang ke Indonesia dan mengurus lagi visa tinggalnya dari Indonesia. Iya mengurus lagi di Jakarta dari awal. Akhirnya M pulang tapi sampai sekarang belum ada kabarnya lagi. Semoga saja sekolahnya dilanjutkan ya…

Si N terpaksa harus pulang ke Indonesia karena diberhentikan oleh pihak kampus. Kenapa? Nakal? Bukan.. Ada kebijakan batas lulus ujian di Jerman ini. Apabila sampai batas lulus dan ujian lisan ekstra terakhir tetap tidak lulus berarti Exmatrikulation. Artinya mahasiswa ini boleh kuliah disini tetapi tidak boleh ambil jurusan yang sama (please correct me if I’m wrong). Si N memilih pulang, kabar terakhirnya jadi pengusaha.

Si O lebih memilih pulang karena lebih yakin pendidikannya di Indonesia lebih aman dari ancaman DO daripada tetap melanjutkan kuliah disini tetapi dagdigdug, lama, bahkan waswas apakah cita-citanya bisa diraih.

Lalu aku jadi kepikiran dengan perjalananku sekolah. Sebagai mahasiswa master paruh waktu sebetulnya aku punya banyak waktu untuk belajar (harusnya, kalau anak kecil tidak ngepasin sakit) apalagi dikasih kesempatan sampai 9 semester (kepinginnya tidak selama itu aminn). Tetapi sekolah sambil ada anak kecil, urus rumah tangga ditambah harus kerja paruh waktu untuk mencari biaya sekolah sebenarnya juga tidak mudah. Tapi harus semangat supaya anak kecil bangga bundanya bisa selesai sekolah..

Libur Wintersemester 2016

-ameliasusilo-

 

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. ndu.t.yke says:

    insyaalloh dimudahkan ya 🙂

  2. denaldd says:

    Semangat Mia! Insya Allah berkah dan jalan terbaik selalu menyertai.

    1. ameliasusilo says:

      Terima kasih mba Deny, amiiin aminn aminn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s